Tampilkan postingan dengan label Ketika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2019

Ketika Racun Laba-laba Mematikan Jadi Penyelamat Nyawa Penderita Stroke - Kompas.com - KOMPAS.com







KOMPAS.com - Pakar biokimia di Australia mengatakan racun laba-laba yang berbahaya dapat memberikan kesempatan hidup lebih baik bagi pasien penderita stroke.


Mereka menemukan bahwa neurotoxin pada laba-laba di Pulau Fraser mengandung molekul yang dapat menghambat efek stroke di otak.


Gigitan seekor laba-laba yang berasal dari Pulau Fraser itu dapat membunuh orang dalam 15 menit. Meski begitu, racun itu juga dapat menyelamatkan nyawa dan telah digunakan untuk mengembangkan obat-obatan guna mencegah kerusakan otak.


Para ilmuwan mengatakan racun itu dapat mematikan jalur yang memicu matinya sel-sel di otak pasca-stroke.


Baca juga: Bagaimana Stres Bisa Menyebabkan Stroke? Dokter Jelaskan


Ilmuwan di Universitas Queensland yakin ini adalah terobosan yang dapat melindungi pasien stroke ketika dibawa ke rumah sakit. Dokter sering mengungkapkan tentang "jendela" atau masa waktu sangat penting sekitar 4,5 jam untuk memberi perawatan dan obat yang tepat pada pasien stroke.


Mereka yang tinggal jauh dari rumah sakit dapat menghadapi konsekuensi sangat buruk.


Tim peneliti itu yakin obat-obatan yang dikembangkan dari racun laba-laba ini dapat diberikan segera oleh paramedis, dan melindungi pasien dari kerusakan otak lebih jauh pasca stroke.


Kepala tim ilmuwan ini, Profesor Glenn King, mengatakan, "Ternyata ada saluran ion yang kecil di bagian syaraf yang disebut sebagai saluran ion penginderaan asam, yang dapat melacak penurunan PH asam di dalam otak. Saluran ini menghidupkan dan mematikan jalur sel kematian karena beberapa alasan yang tidak kita pahami dan jaringan syaraf mulai mati."


" Racun laba-laba Pulau Fraser dapat menjadi penghambat saluran itu sehingga mencegah matinya jaringan syaraf. Kita tidak dapat menghentikan syaraf yang akan mati, tetapi racun laba-laba yang diberikan hingga delapan jam setelah stroke masih dapat melindungi otak," sambungnya.


Laba-laba unik ini hidup di Pulau Fraser, di negara bagian Queensland, Australia. Ia hidup di sarang-sarang di bawah tanah dan pasir.


Masih perlu uji klinis lebih jauh untuk memastikan racun laba-laba ini, tetapi tim itu mengatakan eksperimen dengan tikus terbukti berhasil.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan stroke adalah pemicu kematian kedua terbesar di dunia, dan penyebab utama ketiga yang menimbulkan kecacatan.



























Read More

Senin, 15 April 2019

Ketika Facebook, WhatsApp, Instagram Down - CNBC Indonesia



Jakarta, CNBC Indonesia

- Media sosial ternama,

Facebook, Whatsapp dan Instagram baru saja 'pulih' setelah platformnya sempat down selama 2 jam lebih pada Minggu (14/4/2019).

Pada masalah ini, Facebook tidak merinci lebih jauh penyebab atau gambaran luasnya kejadian tersebut. Namun, Downdetector.com mengindikasikan ada lebih dari 12.000 kejadian di mana pengguna melaporkan masalah mengakses Facebook sementara 3.000 orang melaporkan masalah terkait WhatsApp, dan 7.000 orang bermasalah dengan Instagramnya.

"Hari ini, beberapa pengguna mungkin mengalami masalah mengakses aplikasi-aplikasi ini. Masalah ini telah diselesaikan; kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," kata juru bicara Facebook kepada Reuters.



2x Down dalam satu bulan
Sebelumnya pada Maret 2019, Facebook, Whatsapp dan Instagram juga sempat mengalami mengalami masalah teknis yang membatasi beberapa pengguna untuk mengakses dan memposting di seluruh layanannya. Saat itu masalah terjadi selama lebih dari 24 jam

"Di awal hari ini, masalah jaringan telah membatasi beberapa orang untuk mengakses atau memposting di layanan Facebook. Kami langsung melakukan investigasi dan memulai pemulihan akses, dan kami telah menyelesaikan seluruh masalahnya untuk semua orang. Kami meminta maaf untuk ketidaknyamanan ini," kata juru bicara Facebook, Jay Nancarrow.

Masalah tersebut dialami pengguna di seluruh dunia secara acak dan tidak berdampak pada daerah spesifik. Mayoritas pengguna merasakan masalah kurang dari 90 menit yang disertai ribuan laporan komplain.

Dari masalah ini, kita juga dapat melihat bahwa Facebook, Instagram dan Whatsapp kemungkinan memiliki Server yang sama karena memiliki masalah di saat yang bersamaan.

Saat itu Twitter mendapatkan keuntungan dari mati surinya platform Facebook. Para pengguna beralih untuk beberapa waktu dan menyebarkan berita melalui layanan burung biru.


(roy/roy)







Read More